Selasa, 09 Juni 2009
Sebuah tinta emas terukir untuk para ilmuwan Islam pada masa kejayaan Islam dulu (semoga berulang lagi). Mungkin dalam sejarah di mata pelajaran tingkat sd, smp, atau sma banyak yang tidak menyebutkan maestro-maestro dari dunia islam yang berkontribusi terhadap perkembangan iptek dunia. Penamaan planet-planet berasal dari nama yunani dan cenderung penemunya adalah orang-orang barat, padahal dibalik itu semua telah ditemukan planet-planet sebelumnya oleh para ilmuwan muslim saat itu.
Dunia Islam di zaman kekhalifahan sempat menjelma sebagai pusat studi astronomi dan astrologi. Studi astronomi dan astrologi mulai berkembang pada era kepemimpinan Khalifah Al-Mansyur sebagai penguasa ketiga Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-8 M. Studi astronomi dan astrologi di dunia Islam kian menggeliat sejak ditemukannya astrolabe oleh Al-Fazari.
Menurut sejarawan sains, Donald Routledge, kedua ilmu yang telah menguak rahasia langit itu mencapai puncak kejayaannya dalam peradaban Islam dari tahun 1025 M hingga 1450 M. Pada masa itu, di berbagai wilayah kekuasaan Islam telah lahir sederet astronom dan astrolog Muslim serta sejumlah observatorium yang besar dan megah.
Tak dapat dimungkiri bahwa sederet astronom dan astrolog Muslim terkemuka, seperti Nasiruddin at-Tusi, Ulugh Beg, Al-Batanni, Ibnu Al-Haitham, Ibnu Al-Syatir, Abdur Rahman as-Sufi, Al-Biruni, Ibnu Yunus, Al-Farghani, Al-Zarqali, Jabir Ibnu Aflah, Abu Ma'shar, dan lainnya, telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan astronomi dan astrologi.
Bukti kejayaan yang diraih peradaban Islam dalam astronomi dan astrologi dapat dibuktikan melalui penamaan bintang dan sederet kawah bulan dengan nama-nama yang berasal dari bahasa Arab. Muslim Heritage Foundation mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari peradaban Islam. Para astronom Muslim pada awalnya mengenal nama-nama bintang dari Almagest karya Ptolemeus--astronom Yunani yang hidup pada abad ke-2 M.
Setelah menguasai pengetahuan serta teknologi dalam bidang astronomi dan astrologi, para ilmuwan Muslim pun mulai memberi nama bintang-bintang yang berhasil mereka temukan. Sejarawan Jerman yang juga ahli dalam penamaan bintang dalam astronomi Islam, Paul Kunitzsch, mengungkapkan, ada dua tradisi penamaan bintang yang diwariskan oleh peradaban Islam.
Pertama penamaan bintang melalui dongeng. Paul menyebut penamaan bintang secara tradisional ini sebagai indigenous-Arabic. Yang kedua, menurut Paul, penamaan bintang secara ilmiah (scientific-Arabic). Sayangnya, penamaan bintang yang dilakukan para ilmuwan Muslim telah dibelokkan oleh peradaban Barat.
Hal itu dilakukan saat buku-buku teks bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12 M. Buku-buku teks bahasa Arab yang ditulis para astronom dan astrolog Muslim dengan sengaja dirusak sehingga maknanya pun berubah. Selain itu, perusakan alih bahasa itu juga membuat nama-nama bintang yang ditemukan peradaban Islam kehilangan arti.
Tak cuma itu, nama bintang juga secara sengaja dipindahkan dari satu ke yang lain. Sehingga, posisi bintang yang telah ditetapkan oleh para astronom dan astrolog Muslim itu berada dalam peta bintang yang berbeda. Untungnya, sebagian besar nama bintang yang diadopsi masyarakat Barat sejak bergulirnya Renaisans masih dalam bahasa Arab yang asli.
Salah seorang astronom Muslim yang sangat berpengaruh dalam penamaan bintang adalah Abu al-Husain `Abd Al-Rahma-n Al-Sufi (903 M-986 M). Orang Barat mengenalnya dengan panggilan Azophi. Al-Sufi secara sistematis berhasil merevisi katalog bintang yang dibuat Ptolemeus. Ia mengubah Almagest yang populer itu dengan Kitab Suwar al-Kawakib (Kitab Bintang-Bintang Tetap).
Kitab yang dirampungkannya pada 964 M itu memang berbasis pada warisan astronomi Yunani. Meski begitu, nama-nama bintang yang tercatat dalam kitabnya itu berasal dari penemuannya sendiri dan diberi nama dalam bahasa Arab. Salinan kitab karya Al-Sufi itu sempat ditulis ulang olah putranya sekitar tahun 1010 M. Kini, kitab itu tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford.
Menurut Paul, tradisi masyarakat lokal di negeri Muslim yang tersebar di Semenanjung Arab dan Timur Tengah memiliki nama tersendiri untuk beragam bintang yang terang, salah satunya adalah Aldebaran. Paul menambahkan, kerap kali masyarakat Muslim memperlakukan bintang tunggal seperti orang atau binatang. Bintang yang dikenal sebagai Alpha dan Beta Ophiuchi, tutur dia, dianggapnya sebagai anjing gembala.
Paul menemukan fakta adanya penamaan bintang dalam bahasa Arab yang terdapat dalam buku Almagest karya Ptolemeus. "Contohnya nama bintang Fomalhaut berasal dari bahasa Arab yang berarti 'mulut ikan dari selatan'," ungkap Paul. Dalam kitab yang ditulisnya, astronom Muslim, Al-Sufi, telah mencatat hasil observasinya tentang Galaxi Andromeda. Ia menyebutnya sebagai 'awan kecil'.
Al-Sufi pun tercatat sudah berhasil melakukan observasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak, dan warna bintang-bintang itu. Ia juga mampu membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni Kitab Suwar al-Kawakib itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12, baik penjelasan teksnya maupun gambarnya.
Dari kitab inilah, masyarakat Barat salah satunya mengenal nama-nama bintang. Nama-nama bintang di luar angkasa yang ditemukan para ilmuwan Islam itu merupakan salah satu jejak kejayaan Islam.
Peradaban Islam telah turut memberi nama ratusan hingga ribuan bintang dalam populasi galaksi. Dari sederet nama bintang yang ditemukan dan dinamai ilmuwan Muslim itu, hingga kini masih ada yang dipakai, bahkan ada pula yang sudah lenyap dan tak digunakan lagi oleh peradaban modern. Berikut ini beberapa contoh nama bintang yang berasal dari warisan kejayaan Islam.
Nama Populer (Nama Arab Bintang)
Acamar Akhir an-Nahr (Theta Eri)
Achernar Akhir an-Nahr (Alpha Eri)
Acrab Al-'Aqrab (Beta Sco)
Acubens Az-Zubana (Alpha Cnc)
Adhafera Ad-Dafirah (Zeta Leo)
Adhara Al-'Adhara (Epsilon CMa)
Ain 'Ain (Epsilon Tau)
Albali Al-Bali' (Epsilon Aqr)
Alchibah Al-Khiba' (Alpha Crv)
Aldebaran Ad-Dabaran (Alpha Tau)
Alderamin Adh-Dhira' al-Yamin (Alpha Cep)
Alfirk Al-Firq (Beta Cep)
Algedi Al-Jady (Alpha Cap)
Algenib Al-Janb (Gamma Peg)
Algieba Al-Jabhah (Gamma Leo)
Algebar Al-Jabbar (Beta Ori)
Algol Al-Ghul (Beta Per)
Algorab Al-Ghurab (Delta Crv)
Alhena Al-Han'ah (Gamma Gem)
Alioth Al-Jawn (Epsilon UMa)
Alkaid Al-Qa'id (Eta UMa)
Alkes Al-Ka's (Alpha Crt)
Almak 'Anaq al-Ard (Gamma And)
Almeisan Al-Maisan (Gamma Gem)
Alnair An-Nayyir (Alpha Gru)
Alnair An-Nayyir (Zeta Cen)
Alnilam An-Nidham (Epsilon Ori)
Alnitak An-Nitaq (Zeta Ori)
Alphard Al-Fard (Alpha Hya)
Alphecca Al-Fakkah (Alpha CrB)
sumber: Muslim Heritage
Abadi di Kawah Bulan
Sebagai bentuk pengakuan dunia terhadap sumbangan peradaban Islam, sebanyak 24 ilmuwan dan ulama Muslim terkemuka di era kejayaan telah diabadikan menjadi nama kawah bulan. Pemberian nama ke-24 ilmuwan Muslim itu pun telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU).
Hanya satu nama tokoh Muslim yang tak diakui IAU menjadi nama kawah bulan, yakni Muhammad Abduh (1849 M-1905 M). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970, dan 1976. Pada awalnya, nama ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan itu disebut dalam bahasa Latin, seperti Alhazen, Azophi, Alpetragius, Albataneus, Alfraganus, dan lainnya. Namun, kemudian diberi nama aslinya dalam bahasa Arab.
Berikut nama-nama tokoh dan ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan
Abulfeda. Nama lengkapnya Isma'il Ibn Abu al-Fida. Ia adalah ahli geologi dari Suriah (1273 M-1331 M).
Abulwafa. Bernama lengkap Abu al-Wafa al-Buzajani. Matematikus dan astronom asal Persia (940 M-998 M).
Al-Bakri. Geografer Muslim asal Andalusia itu bernama Abu `Ubayd Abdallah Ibn `Abd al-Aziz Ibn Muhammad al-Bakri (1010 M-1094 M).
Al-Biruni. Ilmuwan serba bisa yang populer di Afghanistan dan India itu bernama lengkap Abu ar-Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. Dia seorang astronom, matematikus, dan geografer (973 M-1048 M).
Al-Khwarizmi. Matematikus dan astronom kelahiran Khwarizmi itu bernama lengkap Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi.
Al-Marrakushi. Abu `Ali al-Hasan Ibn `Ali al-Marrakushi adalah astronom dan matematikus asal Maroko dan bekerja di Mesir pada abad ke-13 M.
Albategnius. Muhammed bin Jaber Al-Battani dikenal di dunia Barat dengan panggilan Albategnius. Dia seorang astronom dan matematikus yang berasal dari Harran, Mesopotamia.
Alfraganus. Abu 'l-'Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Kathir al-Farghani adalah astronom terkemuka di Baghdad yang berasal dari Iran pada abad ke-9 M.
Alhazen. Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan Ibn al Haytham. Ahli fisika, matematika, dan astronomi itu mengabdikan hidupnya di Mesir (987 M-1038 M).
Almanon. Ini merupakan nama panggilan orang Barat terhadap Abu Ja'far Abdallah al-Ma'mun ibnu Harun al-Rashid. Khalifah Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang berkuasa pada 813 M-833 M.
Alpetragius. Astronom asal Andalusia itu bernama Abu Ishaq Nur al-Din Al-Bitruji Al-Ishbili.
Arzachel. Nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash al-Zarqalluh or al-Zarqali. Matematikus terkemuka ini berasal dari Toledo, Andalusia.
Avicenna. Ilmuwan legendaris Muslim itu bernama Abu `Ali al-Hussayn Ibn Sina (980 M-1037 M).
Azophi. Nama lengkapnya Abdurrahman Al-Sufi. Dia adalah astronom terkemuka yang menulis tentang bintang.
Geber. Astronom abad ke-12 M asal Andalusia itu sebenarnya bernama Abu Muhammad Jabir Ibn Aflah al-Ishbili.
Ibnu Battuta. Penjelajah dan geografer Muslim asal Maroko itu bernama Abu Abd Allah Muhammad Ibn `Abd Allah Ibn Battuta.
Ibnu Firnas. Orang Barat menyebutnya Armen Firman. Insinyur pencipta kapal terbang itu bernama lengkap Abbas Ibn Firnas.
Ibnu Yunus. Astronom Mesir (950 M-1009) itu bernama Abu al-Hasan bin Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi.
Ibnu-Rushd. Dokter dan filsuf Muslim asal Andalusia ini bernama Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rushd.
Messala. Nama lengkapnya adalah Ma-sha' Allah ibnu Athari al-Basri. Dia adalah astronom asal Irak.
Nasiruddin. Ilmuwan terkemuka asal kota Tus, Khurasan, ini bernama lengkap Muhammad ibnu Muhammad ibnu al-Hasan al-Tusi.
Omar Khayyam. Dia adalah sastrawan, astronom, dan matematikus terkemuka asal Persia yang hidup pada abad ke-11 M. Dia juga dikenal dengan panggilan al-Khayyami.
Thebit. Ilmuwan asal Irak ini bernama lengkap Thabit Ibn Qurrah al-Sabi' al-Harrani Thabit Ibn Qurra. Ia hidup pada abad ke-9 M.
Ulugh Beigh. Dia adalah penguasa Dinasti Timurid yang juga mencintai astronomi serta sempat membangun observatorium. Nama lengkapnya adalah Mirza Mohammad Taragai bin Shahrukh.
source: republika
sumber lainnya: http://nffm.blogspot.com
Label: pengetahuan
Semut Pemotong Daun
![]() Semut pemotong daun sedang bekerja. |
Ciri-ciri khusus semut pemotong daun, yang juga disebut "Atta", adalah kebiasaan mereka membawa potongan daun yang mereka potong di atas kepalanya. Semut ini bersembunyi di bawah daun, yang sangat besar dibandingkan ukuran tubuh mereka. Daun ini mereka tahan dengan dagu yang terkatup rapat. Oleh karena itu, perjalanan pulang semut pekerja setelah bekerja seharian memberi pemandangan sangat menarik. Orang yang melihatnya akan merasa seolah lantai hutan menjadi hidup dan berjalan. Di hutan hujan, pekerjaan mereka mengambil sekitar 15 persen produksi daun. Alasan mereka membawa potongan daun tentu saja bukan untuk perlindungan dari matahari. Semut ini juga tidak memakan potongan daun. Lalu, bagaimana mereka memanfaatkan begitu banyak daun?
Ternyata Atta menggunakan daun untuk memproduksi jamur. Daun itu sendiri tidak dapat mereka makan karena di dalam tubuh mereka tak ada enzim yang dapat mencerna selulosa dalam daun. Semut pekerja menumpuk potongan daun setelah ia kunyah, dan ia simpan di ruang-ruang dalam sarang di bawah tanah. Di ruangan ini mereka menanam jamur di atas daun. Dengan ini, mereka memperoleh protein yang mereka butuhkan dari pucuk jamur.
Namun, jika Atta disingkirkan, kebun itu biasanya mulai rusak dan segera tersaingi jamur liar. Lalu, bagaimana Atta, yang membersihkan kebunnya hanya sebelum "penanaman", terlindung dari jamur liar? Cara menjaga kultur murni jamur tanpa harus selalu disiangi tampaknya bergantung pada air liur yang dimasukkan semut ke dalam kompos saat mereka mengunyah. Diduga air liur tersebut mengandung antibiotik yang menghambat pertumbuhan jamur yang tak diinginkan. Air liur juga mungkin mengandung zat pendukung pertumbuhan untuk jamur yang tepat. Yang harus direnungkan adalah: Bagaimana semut ini belajar membudidayakan jamur? Apakah mungkin, pada suatu hari seekor semut kebetulan mengambil daun dengan mulutnya dan mengunyah-nya? Lalu secara kebetulan lagi ia menempatkan cairan yang kini mirip bubur ini di atas lapisan daun kering yang benar-benar secara kebetulan merupakan lahan yang cocok? Dan semut lain membawa potongan jamur dan menanamnya di situ? Dan akhirnya semut itu tahu di situ akan tumbuh sejenis makanan yang dapat mereka makan, sehingga mereka mulai membersihkan kebun, membuang bahan yang tak perlu, dan me-manennya? Lalu mereka menyampaikan proses ini kepada seluruh kolo-ni satu per satu? Selain itu, mengapa mereka membawa semua daun itu ke sarang meskipun tak dapat mereka makan?
Selanjutnya, bagaimana semut ini mampu menciptakan air liur yang mereka gunakan saat mengunyah daun untuk memproduksi jamur? Kalaupun misalnya mereka entah bagaimana dapat membentuk air liur ini, dengan informasi apa mereka dapat memproduksi antibiotik dalam air liur mereka yang mencegah terbentuknya jamur liar? Bukankah diperlukan pengetahuan ilmu kimia yang signifikan untuk bisa mencapai proses seperti itu? Andaipun mereka memiliki pengetahuan itu - yang mustahil terjadi - bagaimana mereka bisa mene-rapkannya dan mem-buat air liur mereka memiliki ciri-ciri zat antibiotik ini?
Jika kita pikirkan bagai-mana semut dapat mewujudkan peristiwa mukjizat ini, akan muncul ratusan pertanyaan serupa, yang satu pun tak ada jawabannya.
Di lain pihak, jika di-berikan satu penjelasan, semua pertanyaan ini bisa dijawab. Semut telah di-rancang dan diprogram untuk mengerjakan tugas yang mereka laksanakan. Peristiwa yang diamati tadi sudah cukup untuk membuktikan bahwa semut dimunculkan, dengan mengetahui ilmu pertanian. Pola perilaku kompleks seperti ini bukanlah fenomena yang bisa berkembang bertahap seiring waktu. Pola-pola ini adalah hasil dari pengetahuan yang komprehensif dan kecerdasan yang tinggi. Maka dari itu, klaim evolusionis bahwa perilaku menguntungkan diseleksi seiring waktu dan organ yang diperlukan berkembang melalui mutasi, kini tampak sama sekali tidak masuk akal. Tentu hanya Allah yang memberikan pengetahuan ini kepada semut dari hari pertama, dan Yang menciptakan mereka dengan segala segi yang menakjubkan ini. Allahlah sang Pencipta. Berbagai keunikan semut Atta yang di atas memberikan suatu gambaran yang akan sering kita temui di seluruh buku ini. Kita membicarakan suatu makhluk hidup tanpa kemampuan berpikir, tetapi tetap saja dapat menyelesaikan tugas besar yang memperlihatkan adanya kecerdasan tinggi. Hal ini tak terbayangkan oleh manusia.
Lalu, apa arti semua ini?
Jawabannya hanya satu dan sederhana: Jika hewan ini tidak memi-liki kemampuan berpikir untuk memungkinkannya melakukan apa yang ia lakukan, berarti ada kecerdasan, ada Kebijakan sosok lain. Sang Pencipta, yang menciptakan semut, menjadikan pula hewan ini mampu melakukan hal-hal di luar kapasitasnya sendiri. Demikianlah Dia me-nunjukkan keberadaan-Nya dan keunggulan dalam ciptaan-Nya. Semut bertindak menurut ilham Allah dan kecerdasan yang ditampilkan sebenarnya adalah kearifan Allah.
|
Sebenarnya, hal serupa terlihat di seluruh dunia hewan. Kita ber-temu berbagai makhluk yang menampilkan kecerdasan yang sangat tinggi meskipun mereka tak memiliki pikiran yang mandiri atau kapa-sitas nalar. Semut adalah salah satu hewan yang paling mencolok dan seperti hewan lain, sebenarnya bertindak sesuai dengan program yang diberikan oleh Kehendak yang melatihnya. Ini mencerminkan kearifan dan kekuasaan si Pemilik Kehendak, yakni Allah.
Sekarang mari kita lanjutkan meninjau keterampilan unggul semut, yang memiliki pengetahuan dasar.
Metode Pertahanan Atta yang Menarik
Pekerja berukuran sedang dari koloni semut pemotong daun melewatkan hampir seluruh hari mereka membawa daun. Mereka jadi sulit membela diri selama kegiatan ini, karena mereka memegang daun dengan dagu yang biasa mereka gunakan untuk membela diri. Jadi, jika mereka tak mampu membela diri, siapa yang melindungi mereka?
Telah diamati bahwa semut pekerja pemotong daun selalu berjalan ditemani pekerja yang berukuran lebih kecil. Pada mulanya ini diper-kirakan hanya kebetulan. Lalu, alasan di balik hal ini diteliti dan temuan-nya, yang merupakan hasil analisis yang panjang, adalah contoh kerja sama yang menakjubkan.
Semut berukuran sedang, yang bertu-gas membawa daun, menggunakan sis-tem pertahanan yang menarik untuk melawan jenis lalat musuh. Lalat musuh ini memilih tempat khusus untuk berte-lur pada kepala se-mut. Tempayak yang menetas dari telur ini akan mema-kan kepala semut, dan pada akhirnya memenggalnya. Tanpa asistennya yang kecil, semut pekerja tak berdaya melawan spesies lalat yang selalu siap menyerang ini. Dalam keadaan normal, semut mampu mengusir lalat yang mencoba mendarat di tubuh mereka dengan rahang setajam gunting. Namun, ia tak dapat melaku-kannya selagi membawa daun. Oleh karena itu, ia menaruh semut lain pada daun yang dibawanya untuk membelanya. Jika diserang, para penjaga kecil ini bertarung melawan musuh.
Jalan Raya Atta
Jalan yang digunakan Atta, saat membawa pulang daun yang me-reka potong, mirip jalan raya mini. Semut yang merayap perlahan di jalan ini mengumpulkan semua ranting, kerikil kecil, rumput, dan tumbuhan liar dan menyingkirkannya ke satu sisi. Dengan demikian, mereka membuat jalan bersih bagi mereka sendiri. Setelah lama bekerja secara intensif, jalan raya ini menjadi lurus dan mulus, seolah dibangun dengan alat khusus.
|
|
Koloni Atta terdiri atas pekerja sebesar butir pasir, prajurit yang beberapa kali lipat lebih besar, dan "pelari maraton" berukuran sedang. Pelari maraton ini berlari membawa potongan daun ke sarang. Semut-semut ini begitu rajin sehingga, dengan ukuran manusia, setiap pekerja bagaikan orang yang berlari menempuh jarak satu mil per empat menit sepanjang 50 km, sambil memanggul 227 kg di bahunya.
Dalam sarang Atta, ada ruang-ruang sebesar kepalan tangan sedalam hingga 6 meter. Pekerja mini bisa memindahkan sekitar 40 ton tanah saat menggali sejumlah besar ruangan dalam sarang mereka yang besar. Pembangunan sarang selama beberapa tahun oleh semut ini memiliki tingkat kesulitan dan standar profesionalisme tinggi yang setara dengan pembangunan Tembok Besar Cina oleh manusia.
Inilah bukti bahwa Atta tidak bisa dipandang sebagai makhluk seder-hana yang biasa. Semut, pekerja sangat keras, mampu merampungkan tugas rumit yang sulit dilakukan manusia. Sesungguhnya satu-satunya Pemilik kekuasaan yang bisa memberi mereka keterampilan seperti ini adalah Allah. Sungguh tidak logis jika kita mengatakan bahwa mereka memperoleh semua keterampilan ini sendiri dan dengan kemauan sendiri.
Teknik Semut Atta Memotong Daun
Saat semut memotong daun dengan mandibula (rahang), seluruh tubuhnya bergetar. Para ilmuwan mengamati bahwa getaran ini mem-buat daun diam, sehingga memudahkan pemotong-an. Pada saat yang sama, bunyi ini dapat menarik perhatian para pekerja lain - semuanya betina - ke tempat tersebut untuk me-nyelesaikan memotong seluruh daun. Si semut menggosokkan dua organ kecil pada perutnya untuk menghasilkan getaran ini, yang bisa didengar manu-sia sebagai bunyi yang sangat lirih. Getaran ini di-kirim melalui tubuh hingga mencapai mandibula se-mut yang mirip arit. Dengan menggetarkan bokongnya secara cepat, semut ini memotong daun berbentuk sabit dengan menggetarkan mandibula, mirip dengan pisau listrik.
Teknik ini memudahkan pemotongan daun. Namun, diketahui bahwa getaran ini juga memiliki tujuan lain. Seekor semut yang memotong daun akan menarik semut lain ke tempat yang sama karena banyak tumbuhan lain di daerah tempat tinggal Atta beracun. Karena menguji setiap daun oleh masing-masing semut merupakan prosedur yang berisiko tinggi, mereka selalu pergi ke tempat di mana semut lain telah berhasil merampungkan tugas mereka.
sumber: www.harunyahya.com,
opini sendiri
Label: pengetahuan





